Rissaindri’s Blog

“beibehlopelope”

MUSIK GAMBUS December 10, 2008

Filed under: Musik Gambus — rissaindri @ 1:37 am
gambusBila kita lihat dewasa ini, musik Gambus berkembang pesat di Negara-negara Timur Tengah, khususnya di Mesir. Musik Gambus di Timur Tengah kini telah dibuat menjadi sebuah orkestra yang besar, seperti layaknya orkestra Symponi di negara-negara Barat.Di Indonesia musik Gambus ternyata berkembang di tempat-tempat berkembangnya Agama Islam.

www.samurai.blogster.com

 

GAMELAN TOPENG

Filed under: GAMELAN TOPENG — rissaindri @ 1:35 am

Sebagaimana akan terlihat pada bagian lain dari tulisan ini, teater rakyat Betawi biasa diiringi musik dalam pergelarannya. Lenong biasa diiringi orkes Gambang Kromong, Blantek biasa diiringi Rebana Biang.

 

Tontonan Jakarta

Filed under: Tontonan Jakarta — rissaindri @ 1:19 am

Keberadaan kesenian Betawi yang merupakan kesenian “tuan ruma” di DKI Jakarta mempunyai berbagai keanekaragaman, karena paling tidak, terdapat 73 jenis kesenian Betawi dari seluruh isiplin seni, termasuk ragam hias yang pernah dan masih berkembang di DKI Jakarta. Namun demikian, keanekaragaman kesenian Betawi tersebut belum banyak diketahui oleh masyarakat luas, kecuali beberapa jenis kesenian Betawi yang populer di masyarakat, seperti Lenong, Ondel-ondel, Topeng, Gambang Kromong, dan lainnya. Padahal jika dicermati, masih banyak lagi kesenian Betawi yang tumbuh dan Berkembang di wilayah DKI Jakarta.

hUntuk mengetahui keanekaragaman kesenian ragam hias Betawi serta sebagai upaya merefitalisasi kesenian Betawi yang saat ini masih dirasa kurang, maka Dewan Kesenian Jakarta akan menggelar acara bertajuk Tontonan Jakarta pada 29 November hingga 2 Desember 2007. Acara ini akan mempertunjukkan keragaman seni Betawi dulu dan sekarang, mulai dari musik, folktale, performing art, sampai ragam kuliner. Di sini, masyarakat bisa melihat berbagai kesenian klasik Betawi yang jarang tampil, seperti Sambrah, Wayang Kulit Betawi, Sahibul Hikayat, Topeng Betawi, dan Lenong Denes. Masyarakat juga bisa menikmati hasil kesenian Betawi yang lebih modern, seperti Lenong Preman, Ondel-ondel, Pesta Petasan, Lukisan Betawi, dan pemutaran film. Untuk kuliner, masyarakat bisa ikut menikmati Kerak Telor, Bir Pletok, Sayur Pucung, dan Kue-kue Betawi.

 

Jalan-jalan ke kampung Betawi

Filed under: Jalan-jalan ke Kampung Betawi — rissaindri @ 1:07 am
situ babakan

situ babakan

Jalan-jalan di dalam Jakarta? Situ pula yang dilihat mana ada asiknya? Itulah pikiran yang menghampiri kita selama ini, termasuk halohalo.co.id. Tapi sejumlah kawan bilang, “Situ Babakan di Jagakarsa menyodorkan suasana beda. Dijamin!”

Dari sanalah akhirnya petualangan dimula. Segeralah halohalo.co.id meluncur ke Situ Babakan yang terletak di Jagakarsa, Lenteng Agung. Dari arah Jakarta menuju Depok. Lokasinya ada di antara Kelurahan Jagakarsa dan Kelurahan Srengseng Sawah.

Awalnya kami cuma disambut sebuah situ atau danau yang cukup luas. “Hmm…not bad,” pikir saya. “Cukuplah untuk melemparkan stres ke sana.”

Semakin masuk ke dalam, semakin mempesonalah kampung Betawi ini. Rumah-rumah tempo dulu ala sinetron “Si Doel Anak Sekolahan” berderet di sana. Pepohonan semakin menghadirkan suasana Betawi. Aroma kerak telor yang meruap dari jajaran pedagang kaki lima menambah kental aroma Betawi kampung itu.

Rasanya tak tahan deh untuk melepas stres dengan duduk duduk di tepi danau sambil menikmati suguhan bir pletok (bukan bir yang diharamkan). Ini adalah minuman khas Betawi. Konon, minuman ini sudah lahir sejak jaman Belanda. Karena jaman dulu belum ada gelas beling, maka minuman ini dituangkannya ke gelas bambu dan menimbulkan bunyi khas “pletok”, begitu kira-kira.

(more…)

 

GAMBANG KROMONG October 10, 2008

Filed under: GAMBANG KROMONG — rissaindri @ 1:33 am

Sebutan Gambang Kromong di ambil dari nama dua buah alat perkusi, yaitu gambang dan kromong. Bilahan gambang yang berjumlah 18 buah, biasa terbuat dari kayu suangking, huru batu atau kayu jenis lain yang empuk bunyinya bila dipukul. Kromong biasanya dibuat dari perunggu atau besi, berjumlah 10 buah ( sepuluh \”pencon\” ).
Menurut tulisan Phoa Kian Sioe dalam majalah Panca Warna No. 9 tahun 1949 berjudul “Orkes Gambang, Hasil kesenian Tioanghoa Peranakan di Jakarta.” Orkes Gambang kromong merupakan perkembangan dari orkes Yang Khim yang terdiri atas Yang-Khim, Sukong, Hosiang, Thehian, Kongahian, Sambian, Suling, Pan ( kecrek ) dan Ningnong. Oleh karena Yang-Khim sulit diperoleh, maka digantilah dengan gambang yang larasnya di sesuaikan dengan notasi yang di ciptakan oleh orang-orang Hokkian. Sukong, tehian dan kongahian ticlak begitu sulit untuk dibuat disini. Sedangkan Sambian dan Hosiang di tiadakan tanpa terlalu banyak mengurangi nilai penyajiannya.
Orkes Gambang yang semula digemari oleh kaum peranakan Cina saja, lama kelamaan di gemari pula oleh golongan pribumi, karena berlangsungnya proses perbauran.

Gambang kromong

Gambang kromong

Sekitar tahun 1880 atas usaha Tan Wangwe dengan dukungan Bek (Wijkmeester) Pasar Senen Teng Tjoe, orkes gambang mulai dilengkapi dengan Kromong, Kempul, Gendang dan Gong. Lagu-lagunya ditambah dengan lagu-lagu Sunda populer, sebagaimana ditulis oleh Phoa Kian Sioe sebagai berikut : “Pertjobaan wijk meester Teng Tjoe telah berhasil, lagoe-lagoe gambang ditaboeh dengan tarnbahan alat terseboet diatas membikin tambah goembira Tjio Kek dan pendenger-pendengernya. Dan moelai itoe waktoe lagoe-lagoe Soenda banyak dipake oleh orkes gambang. Djoega orang, moelai brani pasang slendang boeat “mengibing”.

 

Kesenian Betawi July 17, 2008

Filed under: Kesenian Betawi — rissaindri @ 12:57 am

Tari BetawiKeberadaan budaya Betawi, termasuk kesenian tradisionalnya dalam beragam bentuk seperti tari-tarian, teater, nyanyian, musik, dan sebagainya, merupakan aset wisata yang eksotik. Sudah sepatutnya berkembang sebagaimana kesenian tradisional dari etnis lain.

Tak sedikit tim kesenian dari Indonesia yang diwakili Betawi pentas keliling dunia, mendapat sambutan luar biasa di berbagai manca negara. Sementara di Tanah Airnya sendiri seolah kurang mendapat tempat. Bahkan regenerasinya pun acap mengalami kendala.

Saat ditemui di kediamannya, kawasan Cipayung Jakarta, Mpok Nori, salah seorang generasi senior kesenian tradisional Betawi, mengungkapkan bahwa saat ini kesenian yang digelutinya tak sepopuler tahun 70-80-an saat keemasan karirnya.

Kendalanya, selain besarnya pengaruh globalisasi, generasi muda Betawi juga sangat sedikit yang mau mempelajari sekaligus meneruskan kesenian tradisi mereka.

Nah, supaya kita lebih mengenal apa saja budaya Betawi dalam bentuk kesenian tradisional tersebut? Nyok kite kenal lebih jauh…

Entah mengapa diberi nama Ondel-ondel. Yang pasti, setiap ada gelaran hajatan di kalangan warga Betawi, arak-arakan ondel-ondel seperti tak pernah ketinggalan. Baik hajatan besar maupun sekedar pesta sunat anak.

Boneka besar setinggi sekitar 2 meter tersebut memang dipercaya sebagai simbol nenek moyang yang menjaga anak-cucunya yang masih hidup. Dengan kata lain, ondel-ondel juga dipercaya untuk mengusir roh jahat setiap ada hajatan. Bagian wajah berupa topeng (disebut kedok), sementara rambut kepalanya dibuat dari ijuk. Wajah ondel-ondel laki-laki dicat warna merah, sedangkan yang perempuan dicat dengan warna putih.

Keberadaan ondel-ondel yang kerangkanya dibuat dari bambu itu saat ini sudah mulai bergeser. Kadang hanya digunakan sebagai pajangan di kantor-kantor, hotel-hotel, atau tempat-tempat umum setiap bulan Juli tiba.

www.wisatanet.com

 

LENONG BETAWI September 3, 1983

Filed under: Lenong Betawi — rissaindri @ 2:05 am

Serta mengatur kehidupan dengan menyusun norma, etika, dan hukum yang menjadi acuan ketertiban. Beradab atau tidaknya sebuah bangsa bisa diukur dari sini, ketika kita membicarakan budaya cakupannya sangat luas dimulai dari ilmu pengetahuan sampai kesenian yang merupakan simbol dari bentuk pengungkapan atau pesan, bila seorang melihat kesenian ada yang menganggap sebagai hiburan dan ada pula yang menjadikan sebagai instrumen untuk melakukan pencerahan pada masyarakat seperti penggunaan wayang oleh para wali untuk melakukan syi’ar.

Lenong Betawi

Lenong Betawi

Pada konteks mayarakat Betawi banyak melahirkan seni kerakyatan, memang kalau kita telusuri garis sejarah terciptanya tidak terlepas dari proses akulturasi seni yang datang dari luar, sebab secara geografis masyarakat Betawi sejak masa kolonial sampai sekarang menjadi pintu atau corong perdagangan yang akan masuk ke Nusantara sehingga realitas ini mempunyai peran untuk membentuk kesadaran mayarakat yang lebih terbuka terhadap budaya yang datang dari luar, sebab masyarakat yang berada pada jalur perdagangan lebih mudah terjadi penyerapan budaya yang prosesnya nanti akan terjadi proses pembentukan kesenian, ini terjadi pada masyarakat Indonesia secara umum khususnya Betawi.

(more…)